CHOICE

Center of High Operation for Intelligent and Capable English.

CHOICE KAMPUNG INGGRIS

Tempat kursus bahasa Inggris paling terkenal adalah di Pare Kediri.

CHOICE Kampung Inggris

Kampung Inggris adalah pusat kursus bahasa Inggris terkenal se-Indonesia.

CHOICE PARE

Lembaga kursus bahasa Inggris di Pare kediri. Call 0354-390502 atau SMS/call 0852 3323 7633.

Thursday, October 16, 2014


Pare atau yang sering disebut dengan kampung inggris adalah sebuah tempat atau tepatnya merupakan sebuah kecamatan yang berada di kabupaten Kediri. Kenapa disebut kampung inggris? Apakah karena banyak orang Inggris yang tinggal disani? Atau mungkin karena banyak orang Inggris yang berwisata kesini? Dua-duanya bukanlah jawaban yang tepat. 
Tempat ini disebut kampung inggris adalah karena disini terdapat banyak kursusan bahasa Inggris dan mayoritas penghuni kampung ini didominasi oleh para pendatang sementara atau siswa yang ingin belajar bahasa inggris secara fokus disana. 
 Apa istimewanya Kampung Inggris dibandingkan dengan kursusan-kursusan yang ada di kota lain?? Disini anda akan dihadapkan dengan suasana yang tidak akan anda temui dimana pun. Disini anda berkumpul, berteman dan beraktifitas bersama dengan orang-orang yang mempunyai tujuan yang sama dengan anda yaitu ingin bisa berbahasa Inggris. Bisa anda bayangkan apa yang terjadi jika kita berkumpul dengan orang-orang yang mempunyai satu tujuan dan ambisi yang sama dengan kita dimana kita saling berpeluang sama untuk meraih impian kita. Maka tidak heran jika murid-murid yang datang ke Pare Kampung Inggris saling mempraktekkan bahasa Inggris mereka dengan teman-teman disekeliling mereka.
Apa yang membuat anak-anak cepat mahir berbahasa Inggris di Pare Kampung Inggris?? Jawabannya adalah karena fenomena diatas, yaitu banyak pendatang yang mempunyai tujuan dan minat yang sama yaitu bahasa Inggris didukung dengan program kursus yang sangat baik maka terbentuklah habit dimana mereka terbiasa bicara bahasa Inggris dalam aktifitas sehari-hari sehingga membuat mereka cepat menguasai bahasa Inggris.
Salah satu kursusan bahasa Inggris yang mempunyai komitmen tinggi untuk membuat murid-muridnya mahir berbahasa Inggris adalah CHOICE Kampung Inggris. CHOICE mempunyai program full day, 5 kali pertemuan sehari semalam dengan durasi 1,5jam tiap pertemuan. Program-programnya adalah Vocabulary & Expression, Speaking/Conversation dan Grammar/Writing. 
Vocabulary & Expression bertujuan untuk memperkaya kosakata yang nantinya sangat berguna dan sangat mendukung kemampuan murid-murid dalam kemampuan Speaking atau conversation. Speaking/Conversation bertujuan untuk melatih kemampuan berbicara dalam bahasa Inggris yang disusun secara aplikatif. Sedangkan Grammar bertujuan untuk memperbaiki tata bahasa murid-murid baik dalam percakapan maupun dalam tulisan atau writing.
Pendaftaran di CHOICE Kampung Inggris dibuka setiap bulan, untuk informasi lebih lanjut anda bisa menghubungi 0354-390502 atau 0852 3323 7633. 

Nikmati senangnya belajar bahasa Inggris bersama CHOICE Kampung Inggris....!!! :)

Sunday, July 13, 2014

Kampung Inggris Pare
Tempat kursus bahasa inggris di Kampung Inggris - Tempat kursus bahasa inggris di Indonesia yang paling terkenal adalah kampung inggris pare kediri. Disini suasana belajarnya ala kampung namun soal kualitas jangan di tanya. Sudah banyak lulusan Kampung Inggris yang berhasil.

Bertempat di 12 KM arah timur laut perjalanan dari Kota Kediri dengan melewati Monumen Kediri atau Monumen Simpang Lima Gumul.
.
Sejarah Kampung Inggris ini sendiri dulunya adalah kampung kursus biasa namun sejak bermunculan tempat kursus bahasa inggris baru akhirnya terbentuklah sebuah perkampungan kursus. Ya Kampung Kursus, namun seiring berkembangnya waktu terkenal dengan kampung inggris.
Beberapa tempat yang hanya menyediakan tempat kursus bahasa inggris saja menjadikan kampung inggris Pare Kediri Menjadi terkenal. Dari situ dari penjuru Indonesia para pelajar dari SMP, SMA dan Mahasiswa bahkan Para Guru juga mengaku pernah kursus di Kampung Inggris.
Memang di pare ini terkenal kampung inggris namun sebenarnya tak hanya itu ada juga tempat kursus bahasa asing lainnya, salah satunya adalah bahasa jepang dan bahasa arab.

Nah bagi agan n sista yang ingin memperdalam ilmu bahasa Inggris silahkan ke kampung inggris pare kediri..

Untuk informasi dan pendaftaran, silahkan menghubungi CHOICE di 0354-390502 atau 0852 3323 7633

Office di Jl.Anyelir no.58, Tulungrejo, Pare, Kediri

Thursday, September 1, 2011

Introduction

Tempat ini sangat tepat bagi anda yang ingin belajar bahasa inggris secara intensif dan komprehensif, walaupun kemampuan anda masih NOL besar…

Tentang suasana disana, selayaknya kondisi daerah Jawa Timur pada umumnya, cukup panas bagi orang Jawa Barat – anda bisa mandi sesering anda bisa – namun relatif lebih teratur. Terletak di beberapa desa yakni desa Pelem, Tulungrejo, dan ‘anu’ (lupa). Suasana lebih mirip perumahan di Jawa Barat yang berblok-blok dengan jalan beraspal berpinggirkan pohon kersen.

Di tempat tersebut, terdapat banyak sekali lembaga kursus bahasa inggris (umumnya) maupun bahasa lainnya seperti : arab, jepang, cina, korea, sayangnya tidak ada lembaga bhs Jawa J… Selain bahasa, ada juga kursusan komputer dan sempoa aritmatika, dengan biaya yang miring juga tentunya. Ada gula ada semut. Ada kursusan ada kosan juga tentunya…

Perlu diperhatikan, bahwa artikel ini subjektif berdasarkan pengalaman saya pribadi. Kasusnya bisa berbeda untuk orang dan situasi yang berbeda pula… Saya tekankan, saya bukan staf dari salah satu lembaga disana. Saya lulusan Matematika ITB. Mohon maaf jika ada pihak yang merasa di untungkan terlebih yang dirugikan, tidak ada maksud apa2 dari tulisan ini selain berbagi informasi berhubung banyak teman yang bertanya dan kurangnya informasi yang tersedia di web. Tambah lagi, sekarang saya sudah tidak di Pare lagi… saya berada di belahan dunia lain yang cukup dingin
Program

Umumnya, kegiatan belajar di kelas diselenggarakan setiap hari, bahkan bisa sampai 3 kali sehari. Tapi gak perlu takut… tetap ada libur kok, sabtu dan minggu, walaupun terkadang hari sabtu juga ada kelas, kalau memang diperlukan… Jadi jika mengambil lebih dari dua program bersamaan, dijamin bakalan ‘lumayan’ sibuk tuh, ato bahkan terpaksa selang-seling bolos karena ikut kelas program yg laen.. (aku salah satu oknumnya )

Untuk memilih program yang tepat bagi anda, saya sarankan pilihlah program dibeberapa kursusan yang berbeda sesuai dengan spesialisasi/karakteristik kursusan yang bersangkutan. Untuk itu, saya bagi lembaga2 bahasa disana berdasarkan materinya, yaitu: (ini versi saya loohh…)

1. Grammar (basic, translation, writing)

Untuk urusan yang satu ini saya punya dua nama, ELFAST dan SMART. Sejujurnya, saya tidak pernah belajar di smart namun saya siswa tulen nya elfast. Karakteristik kedua lembaga ini adalah ahli dalam urusan grammar (basic), namun elfast lebih ahli (terahli) dalam advance grammar plus langsung menerapkannya dalam materi translation dan writing. Perbedaan lainnya, di elfast lebih bersifat kuliahan yakni terserah kedewasaan anda dalam belajar dan memilih kelas, anda bisa melahap habis semua materi dalam 3-4 bulan (termasuk TOEFL) dengan mengambil dua program sebulannya. Saran saya ambil basic I dan II (bln I), translate dan writing (bln II), grammar school/bedah buku dan TOEFL (bln 3) dengan tidak mengambil kelas pre-grammar (sangat dasar) dan pre-TOEFL (kelas ini saya sarankan untuk di ikuti hanya jika anda tidak mengambil translation atau writing). Sedangkan di smart, lebih saklek. Salek yang pertama, pengambilan kelas harus terurut mulai dari awal dahulu, tidak bisa loncat atau ngambil dua sekaligus dan ada testing masuk, alhasil anda perlu minimal 4 bulan untuk 4 kelas dalam menamatkan studi disini. Saklek yang kedua, anda diharuskan menghafal materi termasuk certain word nya. Setiap hari anda harus setor hafalan kepada teacher anda. Namun demikian, saya kira tempat ini sangat bagus bagi anda yang perlu tekanan untuk belajar dan memiliki waktu luang. Saran saya, setelah anda beres belajar di smart, lanjutkan di elfast mulai dari translation sampai TOEFL.

Yg lainnya: Mahesa, Kreshna, Logico, BEC, EECC, dll…

1. Speaking

Klo yang ini saya ga bisa ngomong banyak, karena saya hanya ikut satu kali kelas speaking di Marvellous. Namun, berdasarkan kabar temen2 disana, lembaga speaking yang termahsyur disana adalah DAFFODILS. Kabarnya, di tempat ini anda terpaksa dan dipaksa untuk berbicara di kelas sekemampuan anda. Alhasil anda terbiasa ng-english tanpa canggung ama yang namanya grammar… Grammar? Emang gue pikirin… gitu katanya…

Yg lainnya: Mahesa, Logico, Marvelous, Awareness, dll…

1. Pronunciation and Expression

Nah, untuk yang ini, MARVELLOUS is strongly recommended lah pokoknya… pengalaman sang president, Mr Tantowi, yang 5 tahun berpendidikan bahasa di Amrik jaminannya. Disini anda akan belajar cara ngomong mulai dari huruf, kata, sampe kalimat, weak n strong form dan banyak lagi sampe orang ga bakalan ngerti sama apa yang kamu ucapin…J disamping itu, expression asli made in Amrik nya banyak banget (bukan ekpresi Indonesia to English)… mulai ekspresi sopan dan santun sampe ekpresi ‘tiittt!!’… banyak tersedia disini.. Kalau bisa, sempatkan untuk ngekos disini biar dapat daily expressions yang melimpah.

Yg lainnya: Daffodils, Awareness, dll…

1. TOEFL

Klo TOEFL, balik lagi ke ELFAST. Duet sang jawara grammar, Mr Andre ama Mr Sonhaji, jadi jaminannya. Teope begete deh…

Yg lainnya: Mahesa, dll…

Catatan: ‘Yg lainnya’ juga ga kalah bagusnya sebenarnya. Ada ‘dll’ karena masih banyak lagi kursusan yang aku ga tau.

Umumnya setiap program diselenggarakan untuk lama belajar selama 1 bulan. Terdapat dua gelombang, yaitu gelombang pertama periode tanggal 10 setiap bulannya dan gelombang kedua periode tanggal 25. Jadi, jika anda berniat kesana, datanglah sebelum tanggal 10 dan 25. Penting untuk diketahui, pada musim liburan sekolah/kuliah, banyak sekali orang yang datang sehingga jangan heran kalau susah sekali mencari kosan yang kosong dan biasanya kuota program sudah habis sebelum tanggal 10 atau 25, so… cepat2lah daftar !! first come first serve…
Kosan

Kosan terbagi dalam setidaknya dua kategori. Pertama pure kosan, kedua kosan English area. Pure kosan maksudnya adalah kosan yang asli kosan, hehe…. Namun, anda bisa memilih mau ngekos di asrama pesantren ato di kosan biasa ato di kosan yang lengkap sama berbagai macam aturan. Klo English area, yaitu kosan yang juga memiliki program bahasa English, mulai dari kewajiban berbahasa inggris sehari-hari sampe kelas inggris seperti telah saya uraikan dalam ‘Program’. Kosan putra dan putri terpisah tentunya… yah… L

English area: Access, Marvelous, Eternity, dll…
Biaya

Hhm… Loe pade bakalan terkejut klo dah nyampe urusan yang satu ini…. Berikut adalah data pada Desember 2009: (rata2)

Kursus perprogram : 80rb perbulan

Pure kosan : 50rb perbulan

English area : 100-150rb perbulan

Makan pagi (nasi pecel) : 2000-3500

Nasi ayam bakar : 4000

Nasi soto : 2500

Es jeruk : 1000

Bakso : 2500

Buah2n : 500

Alhasil, biaya total selama sebulan + 500 rb sudah termasuk minuman ringan (es jeruk dll), internet 3000/jam, dan buku2. Tips, belilah buku sebanyak2nya, harganya miring banget walau dibanding palasari sekalipun… tapi inget, pikirkan pulangnya….
Transportasi

1. Menuju Pare

Kereta

Ekonomi Bandung – Kediri, tarif 38rb, lama + 17jam, berangkat sore sampai pagi (jangan lupa shalat di kereta, tayamum aja).

Dari stasiun Kediri, jalan kaki atau naik becak (max 5rb) ke jalan raya.

Kemudian naik angkot Kediri-Pare (ada tanda P dilingkari) + 25 km 6rb, turun di kantin Danis, Jl. Brawijaya (jangan mau ditawari di antar, mahal). Nah, sekarang anda telah berada di lingkungan Pare, selanjutnya nyari kosan. Untuk nyari kosan, bisa langsung nyari pake becak (jarang ada ojeg) atau jalan kaki. Atau anda titipkan dulu barang bawaan anda di tempat les yang dituju atau ke kontak/teman disana.

Bus

Bus Kramat Djati, 120rb, atau Pahala Kencana, 135rb, Bandung – Kediri. Berangkat sore sampai pagi. Katakan saja sama kendek, ‘Mau ke Pare’ nanti diturunkan di tempat yang dilalui angkot Kediri-Pare.

1. Di Pare

Umumnya untuk transportasi disana, kita beli sepeda bekas aja. Harga sekitar 50-75 rb. Sepeda ini digunakan karena kosan-lesan1, lesan1-lesan2, dan seterusnya lumayan jauh untuk ukuran jalan kaki dengan cuaca yang cukup panas.
Fasilitas

Ngomong2, kampong ini dekat dengan kota kecamatan Pare sehingga fasilitasnya cukup lengkap. Jika anda les di Elfast, berarti anda sudah dekat ke Mesjid Agung Pare dan stadion sepakbola. Tinggal bersepeda sebentar, anda akan sampai di alun2 Pare, pasar, bank Mandiri, BRI dan BNI.

Fasilitas kolam renang dan fitness center pun dapat anda nikmati. Begitu pula dengan akses internet yang relative murah dan cepat.
Tips

Jangan sia-siakan waktu anda di Pare, rencanakan studi anda sependek mungkin. Lagi2 saya sarankan comot setiap program di setiap kursusan yang terbaik di bidangnya.

Alamat

Elfast

Jl. Anggrek No. 17 Pare Telp: (0354) 399844 Pare, Kediri

Marvellous

Jl. Anyelir No. 18 Tulungrejo-Pare. 0888-318-4718 / 081-34567-0535

Daffodils

Jl. Dahlia No. 21 Pare. Telp/SMS: (0354) 7043450

NB :

- Masih banyak lagi kursusan-kursusan yang lain yang saya tidak hafal alamatnya. Maaf klo ga semuanya saya tulis dsni.semoga bermanfaat

Bila ada kisah penguasaan Bahasa Inggris bisa mengubah nasib atau karir seseorang, itu biasa. Kalau bahasa Inggris mampu mengubah wajah suatu perkampungan, itu baru di laur kebiasaan. Hal yang belakangan inilah yang terjadi di Kota Pare, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Kota kecamatan kecil yang terletak 24 kilometer timur laut dari Kota Kediri ini, selain terkenal dengan komoditas madu lebah dan sawo manila, kini memiliki beberapa desa yang dilekati predikat sebagai kampung Inggris. Bukan, bukan karena banyak bule yang berlalu-lalang di sana, melainkan karena menjamurnya tempat kursus Bahasa Inggris di wilayah ini.

Tulungrejo dan Pelem, dari dua desa inilah paling tidak sebutan kampung Inggris berasal. Di sana berderet puluhan lembaga kursus yang mengajarkan kemampuan berbahasa Inggris pada ribuan anak muda dari berbagai daerah di Indonesia. Sebut saja Basic English Course (BEC), Effective English Conversation Course (EECC), Mahesa Institute, Smart International Language College, Manggala English Zone dan sederet nama lainnya. Sebagian besar lembaga kursus ini baru berdiri empat atau lima tahun yang lalu, tetapi beberapa diantaranya telah dikenal sebagai pusat belajar bahasa Inggris sejak awal tahun 1990-an. Bahkan BEC, yang diakui sebagai pendahulu dari semua lembaga kursus yang ada di Pare, sudah berdiri sejak tahun 1977.

Meski terkenal sebagai Kampung Inggris, sebetulnya bukan hanya Bahasa Inggris saja yang ditawarkan oleh lembaga kursus di kawasan Tulungrejo dan Pelem, tetapi juga bahasa Jepang, Mandarin dan Arab. Hanya saja jumlah lembaga dan peminatnya tidak sebanyak di tempat kursus bahasa Inggris, tak heran jika wilayah ini lebih dikenal sebagai kampung Inggris ketimbang julukan lainnya.

“Yang paling awal berkembang dan diminati memang kursus Bahasa Inggris. Saat ini dari 84 lembaga di seluruh Kecamatan Pare, paling tidak 80-an persen mengajarkan Bahasa Inggris,” ungkap Muhammad Kalend (61), pendiri BEC sekaligus tokoh yang berada di balik perkembangan sentra kursus bahasa Inggris di Pare.

Mister Kalend, demikian ia biasa disapa penduduk sekitar dan para siswa kursus, mendirikan BEC di akhir tahun 1970-an awalnya untuk membantu sejumlah mahasiswa yang kesulitan memahami teks-teks bahasa Inggris. Ia memperoleh kemampuan berbahasa Inggris berkat bimbingan almarhum Ustadz Yazied, pengelola Pondok Pesantren Darul Falah, Pare. Ustadz ini kondang sebagai ahli bahasa dan konon sekurangnya 8 bahasa asing dikuasainya. Kini, berkat ketelatenan Mister Kalend selama 28 tahun BEC tumbuh menjadi lembaga kursus terbesar di Pare dengan siswa mencapai 800 orang setiap enam bulannya.

Laris Tanpa Iklan
Citra Pare, terutama Desa Tulungrejo dan Pelem sebagai Kampung Inggris telah memikat minat banyak anak muda dari berbagai daerah di Indonesia. “Saya tahu Pare dari cerita teman saya. Katanya ada kampung Inggris di mana semua orang memakai Bahasa Inggris untuk bahasa sehari-hari. Biaya kursus pun murah-murah, ada yang hanya Rp. 15.000 sebulan. Siapa yang tidak tertarik?,” kata Muttahar, peserta kursus di BEC asal Gerung, Lombok Barat. Dari cerita itu, seusai lulus dari SMA, ia bersama empat temannya memutuskan untuk mengasah kemampuan berbahasa Inggris di Pare untuk bekal mencari pekerjaan. Dalam enam bulan, ia telah lancar dan percaya diri bercakap-cakap dalam bahasa global ini.

Isyam, mahasiswa di Universitas Islam Negeri (UIN) Yogyakarta yang mengambil kelas percakapan di REC (Rhima English Course), menyempatkan diri ke Pare untuk membuktikan cerita gurunya di SMA mengenai keefektifan sistem pengajaran bahasa Inggris di Pare. Lain halnya dengan Basyar, rekan kos Isyam, yang mengaku ikut kursus untuk membekali diri menjadi pengajar di kursus bahasa Inggris di Bantul. Karena itu ia mengambil beberapa program di tempat kursus yang berlainan. “Selain itu, kursus ini untuk persiapan ikut ujian masuk perguruan tinggi di Gadjah Mada. Saya berencana mengambil jurusan Sastra Inggris,” ujarnya mantap.

Seperti halnya pengalaman Muttahar, Isyam dan Basyar, sebagian besar peserta kursus memang mengetahui kisah kampung Inggris hanya dari cerita mulut ke mulut. “Selama ini memang tidak ada tempat kursus yang memasang iklan di media massa, paling banter hanya membuat selebaran dan ditempel disekeliling kampung. Jadi informasi diperoleh dari mulut ke mulut,” kata Afid, pengelola dan pengajar REC. Ia sendiri punya pengalaman berbeda yang mendorongnya untuk belajar Bahas Inggris di Pare. Bukan lantaran reputasi Pare sebagai pusat kursus Bahas Inggris, melainkan gara-gara bersua dengan serombongan gadis yang cas cis cus berbincang dalam bahasa Inggris saat di atas bis antar kota.

Kampung Inggris Julukan Kosong?
Meskipun berjuluk kampung Inggris, jangan dibayangkan wajah Tulungrejo dan Pelem seperti permukiman di luar negeri atau kawasan wisata yang dijejali turis asing seperti di Sosrowijayan, Yogyakarta atau Jalan Jaksa, Jakarta. Suasana di dua desa ini lebih mirip dengan suasana kawasan di sekitar kampus perguruan tinggi. Selain warung makan yang tampak bertebaran, terlihat juga persewaan komputer dan rumah-rumah kos. Jajaran tempat kursus dengan spanduk dan papan nama aneka warna mendominasi sepanjang jalan-jalan utama, terutama di Jalan Brawijaya dan Jalan Anyelir, seakan mencoba meneguhkan julukan Kampung Inggris. Tetapi dinamika ini ditangkap dengan cara pandang lain oleh Mister Kalend.

“Meskipun sudah puluhan ribu orang belajar bahasa Inggris di sini, saya tidak setuju kalau wilayah sini disebut kampung Inggris. Soalnya, warga asli tetap masih banyak yang tidak mengenal Bahasa Inggris. Peserta kursus pun sebagian besar masih berbincang dalam Bahasa Indonesia dan bahasa daerah, termasuk ketika di tempat kursus. Jadi mana bisa disebut Kampung Inggris?”, kata Mister Kalend dengan nada menggugat.

Baginya, julukan kampung Inggris baru layak disematkan jika sebagian besar orang di setiap waktu dan di semua tempat berbicara dalam bahasa Inggris. “Itu pun dengan cara ucap yang tepat, bukan Inggris Jawa, Inggris Sunda atau Inggris Madura,” imbuhnya sembari tertawa. Inggris Jawa, Inggris Sunda maupun Inggris Madura adalah kelakar Mister Kalend untuk menggambarkan cara pelafalan Bahasa Inggris secara medok yang banyak dipraktekkan oleh siswa-siswa yang berbahasa ibu Bahasa Jawa, Sunda atau Madura.

Pendapat Kalend diamini oleh Afid. “Tapi kalau empat atau lima tahun lalu, saya masih setuju dengan julukan kampung Inggris,” ungkap bujangan asal Tulungagung yang akrab dipanggil Mr.Qumpriet oleh para siswanya ini. Menurutnya, saat itu kondisinya lebih mendukung untuk mempraktekkan bahasa Inggris secara aktif setiap hari mulai dari lokasi kursus, warung makan sampai tempat kos.

“Waktu itu setiap tempat kos memiliki pengurus yang membuat program untuk mempraktekkan bahasa Inggris,” lanjut Afid. Ia menilai etos belajar semacam itu mulai luntur, sehingga atmosfir untuk mempraktekkan bahasa Inggris kurang terjaga. Sedang mengenai julukan Kampung Inggris, senada dengan Mr. Kalend, Afid menduga alasan bisnis-lah yang melatarbelakanginya. “Bahasa Inggris di sini kan sudah menjadi komoditas, barang jualan. Jadi wajar kalau julukan kampung Inggris dijadikan seperti merek dagang oleh banyak lembaga kursus,” tambahnya.

Rejeki Bagi Kampung
Lepas dari tepat tidaknya Pare menyandang julukan Kampung Inggris, menjamurnya tempat-tempat kursus di Tulungrejo dan Pelem menjadi sumber rejeki dan meningkatkan taraf ekonomi masyarakat setempat. Banyak rumah penduduk yang disewa untuk dijadikan tempat kursus, meskipun lebih banyak lagi yang dirombak menjadi tempat kos. Selain itu, bermunculan pula warung makan dan jasa pencucian pakaian yang menjadi sumber pendapatan tambahan.

Namun perkembangan ini tidak lantas membuat biaya hidup melonjak. Seperti halnya biaya kursus yang relatif murah, ongkos makan pun sama murahnya. Rata-rata sekali makan dengan menu nasi dan lauk pauk lengkap beserta minuman hanya menghabiskan Rp. 3.500. Biaya kos juga tidak seberapa mahal, berkisar antara Rp. 40.000 hingga Rp. 100.000 per bulan dengan fasilitas kamar berukuran 2 x 3 meter, alas tidur dan lemari pakaian.

Potensi ekonomi sampingan dari bisnis ini memang luarbiasa. Coba bayangkan saja berapa perputaran uang di dua desa ini apabila setiap enam bulan sekali sekurangnya 2000 orang datang bergantian dari berbagai penjuru Indonesia. Hitung saja jika masing-masing peserta kursus membelanjakan, katakanlah minimal Rp. 200.000, maka setiap bulan perputaran uang di Tulungrejo dan sekitarnya mencapai Rp. 400juta. “Padahal saat bulan-bulan liburan sekolah dan kuliah, peminat kursus bisa membludak sampai 5000-an orang,” ujar Afid. Artinya, perputaran uang dalam sebulan di dua desa itu berlipat hingga Rp. 1 milyar!

Angka tersebut tentu bukan nilai yang kecil bagi penduduk yang kebanyakan berprofesi sebagai petani. Tak heran jika lima tahun belakangan ini, seiring makin populernya kawasan Tulungrejo dan Pelem sebagai sentra kursus bahasa Inggris, wajah fisik desa mengalami banyak perubahan. Jalan-jalan tanah di tengah kampung disulap menjadi jalan beraspal mulus dan rumah-rumah penduduk semakin mentereng.

Akan tetapi, di balik geliat ekonomi ini terselip juga ironi. Hampir tidak ada warga asli Pelem dan Tulungrejo yang terlibat langsung dalam pengelolaan tempat-tempat kursus, baik sebagai pengelola maupun pengajar. Banyak diantara anak mudanya yang memutuskan bekerja sebagai buruh pabrik dan profesi lain di berbagai kota, padahal peluang kerja di desanya masih terbuka lebar. “Mungkin mereka merasa gengsi, tapi saya kurang tahu kenapa? Barangkali karena tidak menguasai Bahasa Inggris,” duga Mr. Kalend.

Barangkali inilah pekerjaan rumah terbesar bagi para pengelola lembaga kursus dan masyarakat Pare, yakni menjadikan kaum mudanya dengan percaya diri berkata; “Hi, I am from Pare. And I speak English.”

*****
Ingin pandai berbahasa Inggris dengan cepat dan biaya murah? Datanglah ke Kampung Inggris, Pare, Kediri. 

“Hello guys, how’s life?”
“Everything is running good. And you?”
“Fine.”

Itulah percakapan yang terjadi antara seorang gadis remaja dan teman-temannya di sebuah warung sederhana di Desa Tulungrejo, sekitar 20 Km dari Kota Kediri. Jangan heran jika di desa itu menemui anak-anak ber-cas-cis-cus dalam bahasa Inggris. Entah itu di warung atau tempat nongkrong anak-anak muda. Mulai percakapan dengan topik serius, sampai banyolan, semua dilafalkan dalam bahasa Inggris.

Tentu saja tak semua bisa bicara Inggris dengan lancar. Maklum, baru belajar. Selain kosakatanya masih minim, pengucapannya juga terkesan belepotan. Tapi semangat mereka untuk bisa berbicara dalam bahasa internasional itu, luar biasa men-cengangkan. Itu pula sebabnya dua desa di Kabupaten Pare itu, Desa Tulungrejo dan Singgahan, dijuluki “Kampung Inggris”.

Tak semua penduduk Kampung Inggris adalah penduduk asli, karena banyak juga pendatang yang sengaja tinggal disana sementara demi belajar bahasa Inggris. Sudah lama Kampung Inggris jadi rujukan banyak orang untuk mendalami bahasa Inggris. Siswa yang datang berasal dari berbagai macam background mulai dari jebolan SMA hingga lulusan pascasarjana yang ingin meraih gelar doktor. ”Ada juga yang ingin memperlancar percakapan sebagai bekal kerja di luar negeri.”

Kampung Inggris Pare Kediri
Di tempat kursus CHOICE, selain diajari tata bahasa atau struktur, yang penting adalah percakapan. Banyak yang pintar bahasa asing tapi kurang dalam soal percakapan. Makanya, kebanyakan yang datang ke sini ingin bisa berkomunikasi lancar. 

Tak heran jika sehari-hari, siswa diharuskan berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Bahkan, jika sudah memasuki kursus minggu kedua siswa yang tidak menggunakan bahasa Inggris akan mendapatkan hukuman menghafal kosa kata. Soal gagap atau belepotan, “Tak masalah. Toh, para tutor akan menuntun mereka.”

Murah & Cepat Bisa
Alasan lain orang berbondong-bondong menuntut ilmu bahasa Inggris ke Pare Kampung Inggris, karena biaya yang amat murah. Untuk jadwal belajar sehari hingga lima kali pertemuan, 1 pertemuan berdurasi 1,5jam. biayanya hanya Rp 500 Ribu. Kalau di tempat lain, pasti jutaan rupiah.

Bagi anda yang ingin belajar bahasa Inggris ke Kampung Inggris, silahkan kontak 0354-390502 atau 0852 3323 7633.

Saturday, August 27, 2011

Kursus di Kampung Inggris Pare
Salam semuanya.... Hari ini kami ingin menulis tentang salah satu pidato bahasa Inggris yang ditampilkan oleh murid kursus bahasa Inggris CHOICE Kampung Inggris di PareKediri. Mohon ma'af jika ada grammar atau structure yang masih kurang tepat karena ini  murni dari murid dan yang perlu dihargai adalah keberanian, mental, dan kepercayaan diri yang kita tanamkan pada murid untuk berbicara bahasa Inggris baik dalam conversation maupun dalam public speaking.


VERSI BAHASA INDONESIA
Assalamlkm wr wb.

Yg terhormat....

Pertama2

Kedua

Berbicara tentang guru, guru merupakan sosok yang sangat berjasa dalam kehidupan semua orang karena semua orang tidak bisa langsung pandai dan mengerti segala sesuatu tanpa bimbingan awal dari seorang guru, mulai dari kemampuan membaca, menulis, memahami bahkan mepraktikan sesuatu. Dan guru sangat dituntut untuk selalu berperilaku baik karena perilaku guru, langsung atau tidak langsung, berpengaruh terhadap motivasi belajar siswa, baik yang positif maupun negatif. Jika kepribadian yang ditampilkan guru sesuai dengan segala tutur sapa, sikap, dan perilaku, siswa akan termotivasi untuk belajar dengan baik. Guru sejati tidak hanya mentrasfer ilmu, tetapi juga berbudi pekerti dan dapat menjadi contoh bagi siswa.

Pengaruh seorang guru terhadap anak didik hampir sebesar pengaruh orang tua terhadap anak. Bahkan, kita sering menemukan seorang anak tidak mau mengerjakan saat diperintah orang tua. Tetapi, ketika diperintah guru, dia mau mengerjakan. Meski kasuistik, hal tersebut mencerminkan bahwa pengaruh guru terhadap siswa sangat besar, termasuk dalam pembentukan karakter.

Sebagai kurikulum berjalan, guru seharusnya setiap saat memperbarui dan meningkatkan kemampuan keguruannya. Teladan nyata yang ditunjukkan guru akan lebih mudah melekat dalam perilaku siswa daripada pembelajaran secara verbal.

Aneka cibiran dan komentar sinis masyarakat seakan mengubah citra profesi guru yang dulu dikenal “sakral” menjadi marginal. Publik selalu menyoroti guru sampai sedetail-detailnya. Rusak sedikit citra itu, bisa terjadi isu besar. Meski hanya oknum yang melakukan, semua kena getahnya. Harapan yang membubung membuat masyarakat tidak bisa menerima guru berbuat salah.

Menurut Masruri (2006), guru terbagi dalam empat klasifikasi. Pertama, guru dasar. Mereka yang termasuk kategori itu adalah yang dilahirkan untuk menjadi guru. Dia bersahaja dan santun dalam perbuatan.

Kedua, guru bayar. Itu adalah kelompok guru yang selalu perhitungan terhadap waktu dan tenaga yang dikeluarkan. Bagi dia, profesi adalah mesin pencetak uang. Ada kesan materialistis yang dominan.

Ketiga, guru nyasar. Mereka menjadi guru sebagai pelarian, mungkin salah jurusan atau tidak mendapatkan pekerjaan di profesi lain. Kelompok tersebut masih bisa diluruskan bila kompetensi dan kemauan dirinya terus di-upgrade.

Keempat, guru benar. Itu merupakan guru yang niatnya benar dan tepat dalam empat hal. Yakni, waktu, biaya, tenaga, dan kualitas. Mereka tulus mengabdi demi tugas mulia mencerdaskan bangsa. Spirit berkobar, tak peduli orang berkomentar.
Di masyarakat tertanam bahwa guru adalah sosok yang penuh pengabdian. Pengabdian terhadap murid, sekolah, masyarakat, dan bangsa. Tak aneh, guru hampir selalu dilibatkan dalam berbagai ajang sosial kemasyarakatan. Menjadi panitia penyelenggara pemilu, pilkades, atau pengurus RT. Kadang, demi alasan jangka pendek, guru bertindak melenceng. Mereka menjadi hidden curriculum.

Untuk memaknai profesionalisme, guru perlu introspeksi tentang beberapa hal. Pertama, guru tidak boleh bosan meng-upgrade kemampuan dan keilmuan diri. Zaman terus berubah. Bagi guru, sekolah boleh berhenti. Tapi, belajar harus tetap jalan. Kalau tidak, mungkin benar kritik Franz Magnis Suseno, guru-guru kita tidak terlatih mengantisipasi perubahan. Mereka selalu melihat diri sebagai pemegang otoritas, tetapi dengan kepercayaan diri lemah.

Kedua, senantiasa meningkatkan profesionalisme. Tenaga profesional mengandung arti bahwa pekerjaan guru hanya dapat dilaksanakan oleh seseorang yang memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, dan sertifikat pendidik yang sesuai dengan persyaratan untuk tiap jenis dan jenjang. Dalam UU Nomor 14 Tahun 2005 disebutkan, seorang guru harus memiliki empat kompetensi utama. Yaitu, kompetensi pedagogis, kepribadian, profesional, dan sosial.

Ketiga, menjaga keikhlasan dan niat tulus untuk mengabdikan diri demi berkembangnya tradisi pendidikan di masyarakat. Tanpa keikhlasan, ilmu yang diberikan kepada siswa tidak akan terserap secara optimal.

Siswa mesti belajar berterima kasih kepada orang-orang yang telah membantu mereka. Di atas segalanya adalah orang tua yang telah melahirkan dan mengasuh mereka. Siswa harus mengasihi dan menghormati orang tua mereka. Selanjutnya siswa harus berterima kasih kepada guru-guru, karena siswa memperoleh pengetahuan dan kebijaksanaan melalui guru-guru. Maka siswa mesti mengasihi dan menghormati guru. Demikian pula, siswa telah mendapatkan banyak hal dari masyarakat, dari bangsa, dari dunia, dan alam. Siswa mesti selalu berterima kasih kepada semua hal.

Lagu himne guru ini sering dinyayikan oleh para siswa pada saat upacara bendera atau perpisahan. Siapapun yang mendengarkan akan tersentuh hatinya, bahkan tidak jarang meneteskan air mata. Syair Lagu himne guru ini berisi ucapan terimakasih dan sanjungan terhadap profesi guru yang telah banyak jasanya terhadap bangsa dan negara. Yang masih menjadi pertanyaan dalam hati sang guru adalah apakah benar bahwa namanya selalu dikenang oleh mantan muridnya? Apakah benar masyarakat dan pemerintah berterima kasih secara tulus? Jika benar tindakan apa yang telah diperbuat masyarakat dan pemerintah untuk peningkatan profesionalisme maupun kesejahteraan guru?

Realitasnya profesi guru tidak semuanya seperti apa yang digambarkan dalam lagu himne guru. Tidak jarang murid yang dulu dididik dengan kesabaran dan keikhlasan, sekarang bersikap sebaliknya jika bertemu atau berpapasan di jalan mereka masa bodoh dan cuek. Tentunya tindakan tersebut sangat menyakitkan hati sang guru.

Guru seharusnya tidak cukup hanya diberikan ucapan terima kasih, sanjungan, dan hiburan melalui lagu lagu. Hal yang lebih penting bagi guru adalah adanya peningkatan profesionalisme, perlindungan, kesejahteraan, penghargaan yang layak, dan kelancaran karir.

Para guru dituntut untuk profesional dalam bidangnya, tetapi disisi lain pengabdian dan kerja kerasnya kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah. Nasip guru mulai dari orde lama sampai dengan era reformasi masih sangat memprehatinkan tidak semujur profesi lainnya. Hal ini disebabkan pemerintah ataupun yayasan (guru swasta) belum dapat memberikan gaji yang layak bagi guru seperti negara Brunai, Malaysia, Jepang, maupun Amerika Serikat. Gaji yang mereka diterima tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya apalagi untuk rumahtangganya.

Guru dalam memenuhi kebutuhan hidup yang layak, mereka harus berjuang dan bekerja keras mencari penghasilan tambahan. Hal yang dilakukan guru khususnya di kaltim antara lain mengajar di sekolah lain, memberikan les privat, berjualan, bahkan menjadi tukang ojek. Oleh karena itu, tidaklah salah jika muncul pertanyaan bagaimana mereka dapat berpikir profesionalisme jika kebutuhan pokoknya saja (karbo hidrat) tidak terpenuhi? Apalagi untuk membeli buku-buku yang menunjang profesinya, bagaimana pendidikan dapat maju jika pendidiknya masih banyak menghadapi permasalahan?. Pertanyaan pertanyaan tersebut memerlukan jawaban berupa tindakan (kebijakan) nyata pemerintah dan pemerintah daerah untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi guru.

Masih terbayang bagaimana kita pas pertama kali masuk sekolah, pertama kali belajar nulis. Pensil yang kita pegang ikut bergetar karena tangan kita baru melakukannya, ditambah grogi pula. Tapi guru kita di sekolah dasar itu dengan telaten mengajari dan membimbing kita dengan tanpa pernah bosan.

Kalau kita berbicara kebaikan juga pengorbanan yang mereka berikan untuk kita sepertinya nggak ada akhirnya. Maka dari itu sekali lagi saya mengajak marilah kita berterima kasih kepada guru-guru kita, terima kasih yang tidak hanya dalam ucapan tapi juga dalam segala bentuk pengaplikasiannya seperti yang sudah saya jelaskan tadi.

Sekian dari saya, terima kasih atas perhatiannya. Mohon ma’af apabila anda menemukan banyak kesalahan dalam pidato saya. Akhir kata Assalmlkm wr. Wb.


VERSI BAHASA INGGRIS
Asslmlkm wr wb.

Excellency...

Respectable...

Honorable...

Firts of all let’s pray unto God Allah SWT who has given us mercies and blessings so we can attand and gather in this place in good condition and happy situation.

Secondly may peace and salutation always be given to the great prophet Muhammad SAW who has guided us from the darkness to the lightness, from stupidity to the cleverness namely Islam religion.

Talking about teachers, teachers are very instrumental figure in the life of everyone because everyone can not be smart and understand everything without initial guidance from a teacher, starting from the ability to read, write, understand and even practicing something. And teachers are required to always behave very well because the behavior of teachers, directly or indirectly, affect students' motivation, both positive and negative. If teacher's personality is displayed in accordance with all the teachers words, attitudes, and behaviors, students will be motivated to learn. True teachers do not only transfer knowledge, but also virtuous character and can be an example for students.

The influence of a teacher to the students almost as much as influence of parents against children. In fact, we often find a child does not want to do something when it was ruled by his or her parents. But, when it is ruled by a teacher, he or she want to do it. Although casuistic, it reflects that the influence of teachers on students is huge, including the formation of character.

As curriculum goes, the teacher should have time to update and improve the ability of education. Shown a real role model of teachers will be more easily attached in student behavior rather than verbal learning.

Various public scorn and cynical comments like changing the image of the teaching profession formerly known as "sacred" to be marginal. The public has always watched the teacher behavior up to the most detail thing. Slightly damage the image of it, there could be a big issue. Although the only person who did, all the taxable resin. Rising public expectations to the teachers make them do not receive if the teachers make one mistake.

According to Masruri (2006), teachers are divided into four classifications. First, the basic teacher. That is the person who was born to be teacher. He is humble and courteous in deed.

Second, paid teacher. It is a group of teachers who are always calculated with respect to time and energy released. For him, the profession is a money-making machines. There is the impression that the dominant is materialistic.

Third, stray teachers. They became teachers as an escape, maybe wrong department or not getting jobs in other professions. This group can still be corrected if the competence and the will itself continue to be upgraded.

Fourth, the right teacher. It is the true and correct intention of teachers in four ways. Namely, time, cost, effort, and quality. They are sincerely devoted to the noble task of educating the nation. Blazing spirit, no matter how people commented.

Embedded in the community that the teachers are really dedicated. Dedication to students, schools, communities, and nations. Not surprisingly, teachers almost always involved in various social arenas. Become organizers election, Pilkades, or caretaker RT. Sometimes, for reasons of short-term, the teacher acted off the mark. They become hidden curriculum.

To make sense of professionalism, teachers need to be introspective about some things. First, teachers should not be bored to upgrade skill and science. Times continue to change. For teachers, schools may stop but, learning must continue. Otherwise, it may be true critic of Franz Magnis Suseno, our teachers are not trained to anticipate change. They always see themselves as an authority, but their confidence is weak.

Second, constantly increasing professionalism. Professional means that teachers work only be performed by someone who has academic qualifications, competence, and educator certificate in accordance with the requirements for each type and level. In Law No. 14 of 2005 is mentioned, a teacher must have the four core competencies. Namely, pedagogical competence, personality, professional, and social.

Third, keep the sincerity and genuine intention to devote himself for the development of educational tradition in the community. Without sincerity, knowledge provided to students will not be absorbed optimally.

Students must learn to thank people who have helped them. Above all is the parent who has given birth to and nurturing them. Students must love and respect their parents. Furthermore, students have to thank to the teachers, because students gain knowledge and wisdom through the teachers. Then students must love and respect for teachers. Similarly, students have gained much from society, from the nation, from the world, and nature. Students must always be grateful to all things.

Teacher Hymn is often sung by the students during the flag ceremony or farewell. Anyone who listens to this his heart touched, not even rarely shed a tear. Poem of teacher hymn contains gratitude and admiration to the teaching profession that has many services to the nation and state. Which is still in question in the teacher's heart is whether it is true that his name is always remembered by his former student? Is it true that people and governments are sincerely grateful? If it is true what action has been done by the community and government to increase teachers' professionalism and welfare?

The reality of the teaching profession are not all like what is described in the hymns of teachers. Not infrequently the students who had been trained patiently and sincerity, now behave otherwise if they meet or passed on their teacher they ignore and indifferent. Surely these actions are very hurtful to the teachers.

Teachers should not be given only enough gratitude, flattery, and entertainment through songs. It is more important for teachers is an increase in professionalism, protection, welfare, worth rewards worth, and smooth career.

Teachers are required to be professional in his field, but on the other hand the devotion and hard work get less attention from the government. Teachers fate from the old order until the reformation era is still very concerned different with other professions. This is due to the government or foundations (private teacher) can not provide decent wages for teachers such as Brunei, Malaysia, Japan, and the United States. The salary they received was not enough to fulfill their need let alone for their household.

Teachers in meeting the needs of living, they must struggle and work hard to find extra income. Things that teachers do, include teaching at another school, giving private lessons, selling, and even a public motorcycle rider. Therefore, it is not wrong if the question arises how they can think of professionalism if their basic needs only (carbo hydrate) is not fulfilled? Moreover, to purchase books that support the profession, on how education can be developed if educators still face many problems?. Those questions require answers in the form of action (policy) by the government and local governments to resolve the problems that teachers face.

I can still remember how we first time entered school, first learning to write. We held pencil in our hands trembling because we never did it before, plus a nervous too. But our teachers in elementary school teach and guide us patiently without ever being bored.

If we talk about the kindness and the sacrifices they give to us it seems there is no the end of this. Therefore once again I invite to thank to our teachers, thank not only in words but also in all forms of its application as I described earlier.

That’s all from me, thanks a lot for your nice attention. Please forgive me if you found many mistakes from my speech. The last I say Assalmlkm Wr. Wb.